PERSADIA News

PERSADIA (Persatuan Diabetes Indonesia) PERSADIA (Persatuan Diabetes Indonesia/ Indonesia Diabetes Association) secara resmi berdiri di Bandung, tanggal 12 Juli 1986.

Makanan Organik vs Makanan Konvensional

Makanan Organik vs Makanan Konvensional

Let’s talk about ‘pangan organik’. Apa sih yang terasosiasi di benak kita kalo ngomongin makanan organik? 3 kata? Kalo saya mahal, aman, sehat. Cek satu2.
Sebelumnya back to definisi dulu. Bahan pangan organik itu adalah bahan pangan yang dihasilkan dari sistem pertanian organik. Minim pestisida sintetis dan pupuk kimia. ‘Organik’ di sini hanya istilah ya, untuk pertanian yang ramah lingkungan, back to nature dsb, beda sama ‘organik’ yang dimaksudkan di pelajaran kimia itu (semacam molekul yang mengandung atom karbon). Jadi saya pake istilah bahan pangan biasa/konvensional aja sebagai kebalikan dari bahan pangan organik.

1. Lebih mahal?
Bahan pangan organik ini harganya biasanya 10-30% lebih mahal dari bahan pangan konvensional. Kenapa lebih mahal? Antara lain karena perawatannya yang lebih riweuh, permintaan yang lebih tinggi daripada penawaran, penanganan pasca panen yang lebih ribet, tenaga kerja yang lebih banyak, dan sertifikasi pangan organik yang gak mudah dan gak murah dll.

2. Lebih aman?
Samakan persepsi aman dulu. Apa yang dimaksud aman itu adalah karena kandungan pestisidanya lebih sedikit? kalo itu, ya jelas pangan organik punya residu pestisida lebih rendah dibandingkan pangan konvensional. Wong syarat disebut organik itu emang meminimalkan/meniadakan pestisida sintetis. Tapi menurut saya, sebenernya kuncinya itu ada pada dosis. Apakah dosis pestisida di bahan pangan konvensional itu melebihi ambang batas maksimum penggunaan pestisida yang diijinkan? Kalo masih jauh di bawah dosis, ya masih aman, gak perlu terlalu parno. Masalahnya ada juga petani2 nakal yang kadang bertanam gak pake aturan, semena2 ngasih pestisida ke tanamannya. Nah dosis untuk pestisida itu beda2, tergantung jenis pestisidanya dan bahan pangannya. Bisa di cek di SNI (saya lagi males nyarinya. Banyak :D). Meskipun begitu, sangat jauh lebih baik kalo pestisida sintetis itu bisa diganti dengan pestisida alami/hayati/nabati yang lebih ramah lingkungan.

3. Lebih sehat?
Lha kalo tentang nutrisinya gimana? Apakah pangan organik lebih tinggi nutrisinya dibandingkan yang konvensional? Sepertinya gak begitu. Yang saya baca2 itu ternyata beda kandungan gizi antara pangan organik dan yang konvensional itu gak signifikan/gak beda2 amat/sama aja. Yang harus diperhatikan dari pangan organik itu sebenarnya adalah tentang kontaminasi mikrobianya. Kan pupuknya itu biasanya pake pupuk kandang ya, bakteri semacam E.Coli di pupuk kandang itu kira2 bisa mengkontaminasi bahan pangannya gak? Gak tau juga, belom dapat referensinya.

Pilihan banyak orang untuk pindah haluan dari pangan konvensional ke pangan organik itu sebenarnya lebih terkait dengan persepsi otak. Semacam halo efek gitu, sugesti mungkin ya. Tanpa melihat nilai nutrisi di kemasan, konsumen biasanya menyimpulkan kalo pangan yang dilabelin dengan cap ‘organik’ itu lebih sehat, lebih bergizi, rendah kalori dan lebih aman, sekalipun lebih mahal. Kaya persepsi kalo mobil Honda itu lebih keren dari Hyundai *gak nyambung ya 😀 Persepsi ini sebenarnya kurang tepat dan kurang kuat, karena belom didukung dengan banyak penelitian. Kebanyakan penelitian yang dilakukan adalah membandingkan kandungan residu pestisida pada pangan organik dan konvensional. Penelitian2 yang membandingan kandungan nutrisi kedua jenis pangan ini hasilnya bervariasi sehingga belom bisa ditarik kesimpulan besarnya kalo pangan organik itu lebih tinggi nutrisinya dibandingkan pangan konvensional.

Jadi ya biasa aja deh, gak perlu terlalu rem to the pong dan ri to the bet. Lagi2 kembali pada preferensi masing2. Kalo ngerasa lebih mantep dengan makanan2 organik, -dengan resiko harus merogoh kocek lebih dalam- sok dilanjutken. Tetapi kalo masih tetep bertahan dengan pangan yang biasa aja ya gakpapa juga. Dengan catatan diperhatikan preparasinya. Residu pestisida yang paling banyak itu biasanya ada di permukaannya. Jadi kalo mau makan buah ya kupas dulu kulitnya. Apalagi untuk buah manggis, kabar gembiranya kan kulitnya bisa diekstrak tuh. Atau kalo buah2 yang kulitnya harus dimakan macam stroberi, anggur atau apel ya dicuci pake sabun yang foodgrade itu. Kalo kubis, bagian terluarnya mending dibuang dulu.

Kalo pengen yang aman dan murah ya nanam sendiri aja sayur2 dan buah2annya. Pake metode hidroponik juga oke kayanya. Gak pake tanah2an. Saya kemarin juga udah nanem cabe, tomat dan sesayuran lain. Menyenangkan lho. Melihat sebuah proses kehidupan baru, dari sebutir biji, berkecambah, tumbuh daun da..da..da.. trus dipanen deh, kalo gak dipanenin ulat sama walang duluan

Oke, demikian sekelumit cerita tentang pangan organik yang saya tahu. Monggo kalo ada koreksi atau info tambahan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.